Batam Menjadi Daerah Istimewa Apabila di Pimpin Gubernur Bukan Walikota

  • Whatsapp
Prof.Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden RI ke III saat konferensi Pers di Bandara Hang Nadim Batam (30/04/19).

TERDEPAN.CO.ID,BATAM- Prof.Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden RI ke III dalam kunjungannya ke kantor BP Batam, Selasa (30/01/19) menyampaikan, Batam sebagai daerah yang sangat strategis dipersimpangan jalur perdagangan internasional yang langsung berhadapan dengan negara tetangga Singapura, bisa menjadi suatu daerah yang istimewa sehingga bisa bersaing dengan Negara tetangganya.

Ia mengatakan, untuk mewujudkan sebagai daerah istimewa dalam pertumbuhan ekonomi, Batam layak dipimpin oleh seorang Gubernur bukan sebagai Walikota.

Muat Lebih

“Sebagai daerah yang dirancang sebagai Kota Industri, Otorita  (BP Batam) yang harus berkembang  dan menjadikan Batam  suatu daerah istimewa  sehingga bisa bersaing dengan Negara tetangganya, yang dipimpin oleh seseorang bukan Walikota tetapi seseorang Gubernur  dengan PAD untuk pemasukan Batam sendiri yang dimanfaatkan untuk  kesejahteraan Batam, “terang Habibie dengan senyum kasnya.

Menurutnya, Batam sebagai daerah yang strategis berhadapan dengan Negara tetangga dan berada dipersimpangan Selat Malaka, merupakan suatu kebanggaan yang harus dimanfaatkan dengan teknologi “High Technology” karena Batam di desain awal sebagai Kota Industri.

“ Secara normal Kita merasa  bangga karena jaraknya yang sangat berdekatan  dengan Negara tetangga Singapura dan Kita harus juga pandai-pandai memanfaatkan  dan mengisinya dengan High Tech,  karena rencana awalnya Batam dibentuk sebagai Kota industry, “lanjutnya.

Habibie berpesan kepada BP Batam agar dapat mewujudkan amanah dengan mengikuti uu yang telah ada dan BP Batam bisa mempersiapkan hal tersebut dari sarana maupun prasaranya.

“untuk persiapan itu semua, BP Batam  mempersiapkan sarana dan parasarana, “ paparnya.

BJ Habibie bercerita, sebelum membangun Kota Batam yang dilakukan pada tahun 1975 atas intruksi Presiden Soeharto yang saat itu berkuasa, Batam merupakan pulau kosong yang dihuni hanya belasan masyarakat nelayan (Orang Bugis).

“Pada waktu itu, ketika Saya ditugaskan oleh Presiden RI ke II, Soeharto,  untuk pengembangan Kota Batam, prasaranya tidak ada,  yang ada hanya nelayan di pantai Nongsa, tapi itu ada orang Bugis semuanya itu orang nelayan, paling banter 16 orang  dan sekarang menurut walikota berkembang pesat menjadi  1,6 juta jiwa, “ tuturnya mengenang.

Habibie juga berpesan, BP Batam terus melakukan pembangunan tanpa mengesampingkan penghijauan agar Batam menjadi Kota Modern yang indah dan membuat para investor betah tinggal didalamnya.

“Penghijauannya dipelihara dan juga diperhatikan. Dan yang boleh dimanfaatkan untuk  dibangun untuk perusahaan seperti perusahaan mesin, elektronik, hi teck  dan segala vendor,  tidak boleh menempati 40 persen dari tanah yang ada, karena untuk keseimbangan alam serta air minum, “ jelas Habibie.

Lanjutnya, Untuk menarik para investor BP Batam harus bisa menjaga dalam hal perdagangan agar bisa bersaing dan saling menguntungkan.

“Direncanakan nantinya, dalam perdagangan itu bisa bersaing dan menguntungkan, seperti bank-bank yang ada di Singapura dan kapal-kapal yang berlayar bisa parkir dan bongkar muat di Batam saja, “pungkas Habibie menutup wawancaranya.

Penulis : IKA

 

Pos terkait