Hobby Nyinyir di Medsos Tanda Gila atau Iri

Terdepan.co.id,Batam- Kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui media sosial memungkinkan orang untuk mudah membuli seseorang di media sosial karena aksesnya gampang, dan banyak orang yang mengekspos kehidupannya di media sosial.

Psikolog Dian Ibung dalam cupikan vidio gue sehat.com menyampaikan, dalam lingkungan sosial baik itu, nyata maupun enggak, kalau ada orang yang punya kehidupan yang berbeda dari kehidupan kebanyakan orang kemudian dia mengekspos kehidupan itu di media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatshap dan sejenisnya, maka kondisi itu akan mudah mengundang komentar negatif dari orang lain, termasuk komentar dari masyarakat itu.

“Enggak heran jika beberapa orang lebih sering nyinyir memberikan komentar negatif dibanding memuji, “terangnya.

Menurutnya, tujuan nyinyir bisa saja karena tujuan dan kepentingan kelompok Dia pribadi, kelompok pertemaan, kelompok kekeluargaan atau mungkin adalah kelompok poltik dan agama.

Mungkin dia punya pengalaman pribadi serta juga kepentingan dan pendapat negatif, yang tidak bisa disampaikan di dunia nyata, karena sekarang aksesnya mudah di media sosial, atau internet maka dia menyalurkanya disitu, atau tujuannya dua duanya itu bisa juga, atau yang disebut membulli, “paparnya.

Ia berpendapat membulli atau tindakan negatif melalui kecanggihan teknologi merupakan tindakan yang bisa masuk kedalam UU cyber bullying.

“Kalau berbulli itu adalah tindakan hanya untuk menghina orang lain, merendahkan orang lain mengolok olok orang lain, menjelekan orang lain dan semua tindakan negatif, dan menghina orang lain melalui kecanggihan teknologi, dengan cara mendownload SMS, WA atau memposting komentar di facebook atau konten medsos lain, itu kesemuanya sudah masuk cyber bullying , “tuturnya.

Dian menyarankan, untuk tidak menjadi korban nyinyir, masyarakat untuk tidak terpancing dengan komentar negatif dan apabila mau berkomentar untuk memberikan bukti.
“Siapa yang menjadi korban komentar seperti itu, yang penting jangan terpancing, jadi apabila komentar negatif dan dibalas dengan komentar yang negatif itu jadi rame dan panjang, dan tidak selesai, dan lebih baik apabila ingin mengomentari, lebih baik berikan bukti. Dan kasih bukti misalnya, photo apabila dia tidak seperti itu, atau memberikan link ilmiah yang tidak begitu, seperti yang dikatakan pelaku, “bebernya.
Sarannya, dengan nyinyiran tersebut bisa diambil sebagai intropeksi dan apabila sudah sangat meresahkan bisa untuk dilaporkan ke Polisi.

“Apabila diambil positifnya, misalnya kamu ambil 10 nyinyiran, 9 diantaranya itu nadanya sama, sebagai tambahan intropeksi, dan apabila itu mengganggu dan males untuk mengkronfortasi itu abaikan saja, dan apabila diperlukan kamu blok atau print bentuk nyinyiran, itu kalau yang berat, dan apabila masih berlanjut maka bukti nyinyiran ini bisa dilaporkan ke media sosial tempat dipostingnya nyinyiran tersebut maupun ke berwajib, ” ujarnya.
Dalam cupilkan Body Shaming di Media Sosial – GueSehat.com, berkomentar atau nyinyir di media sosial mungkin memang merupakan hal yang sering dilakukan. Namun, Nilam menegaskan jika kondisi ini juga bisa digolongkan sebagai kelainan mental apabila seseorang melakukannya di luar kontrol kesadaran, kemudian dibarengi dengan delusi dan halusinasi.
Ada 6 kategori yang melatar belakangi orang suka nyinyir yaitu, menilai orang lain hanya berdasar postingan di media sosialnya, merasa selalu paling benar, selalu merasa iri dengan pencapaian orang lain, suka ikut campur dengan urusan orang lain, sering mengada-ada cerita, tidak bisa membaca situasi dan tidak bisa membaca situasi.
Nah, jika Kamu enggak mau dicap nyinyir, mulai sekarang coba deh lebih dewasa dalam membuka pikiranmu. Posisikan dirimu di sudut pandang yang berbeda, sehingga Kamu tidak langsung dengan mudah menghakimi seseorang dan pastikan jika komentar yang Kamu lontarkan tidak nyinyir dan menyakiti perasaan orang lain, Batam,  Rabu (02/01/2019).
Redaksi

 

SHARE