Sekongkol Rugikan Negara 5 Milyar Hariadi dan Berto Riawan Jadi Tersangka Penyelewengan Pelabuhan Dompak

Terdepan.co.id-Batam- Bersengkongkol menyalahgunakan kewenangan proyek Pembangunan Pelabuhan Dompak yang bersumber dari APBN- P 2015 yang dikerjakan oleh KSOP Kelas II Tanjungpinang dengan Pagu dana sebesar Rp10 miliar dengan nilai kontrak Rp.9.242.350.000 Hariadi dan Berto Riawan telah merugikan negara sebesar Rp.5 Milyar lebih setelah dilakukan audit oleh BPK RI.

Tersangka Hariadi merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), sedangkan Berto Riawan merupakan pemenang tender yang juga merupakan Direktur Cabang PT Karya Tunggal Mulya Abadi, dan penetapan tersangka berupa dua alat bukti telah menyeret keduanya di hadapan penyidik Polres Tanjungpinang dengan penyelidikan dugaan korupsi pembangunan Pelabuhan Dompak.

Kapolres Tanjungpinang AKBP Ucok Lasdin Silalahi menyampaikan, kasus kedua tersangka ini merupakan rangkaian penyelidikan dalam waktu yang cukup lama dengan temuan dua alat bukti yang cukup untuk menyatakan status tersangka kepada keduanya.

Proyek pembangunan Pelabuhan Dompak yang dananya bersumber dari APBN- P 2015 dilaksanakan KSOP Kelas II Tanjungpinang dengan Pagu dana sebesar Rp.10 miliar dengan nilai kontrak Rp9.242.350.000 dan saat itu kuasa pengguna anggaran dijabat Capt.Hendri Ginting, “terangnya.

Dari hasil penyelidikan atas kasus tersebut, penyidik menemukan pekerjaan yang tidak seluruhnya dikerjakan oleh para tersangka dan ada beberapa jenis pekerjaan yang tidak dilaksanakan sama sekali, dan dalam praktek di lapangan PPK tetap melakukan pembayaran 100 persen dan setelah lakukan audit BPK Republik Indonesia, negara telah dirugikan sebesar Rp 5.054.740.904.

“Saat ini keduanya diamankan dan akan di proses sesuai hukum dengan dijerat pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 juncto pasal 55 dan 56 KUH Pidana, dimana setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasu yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 denda paling sedikit Rp. 200 dan paling banyak Rp.1 juta,” tutupnya. IKA

SHARE