Wartawan Rusia, Arkady Babchenko, Ternyata Masih Hidup

Wartawan investigatif terkenal Rusia, Arkady Babchenko,

TERDEPAN.CO.ID,INTERNASIONAL- Wartawan investigatif terkenal Rusia, Arkady Babchenko, yang dilaporkan secara meluas dibunuh ternyata masih hidup dan dalam keadaan sehat.

Babchenko, yang merupakan pengkritik terbuka pemerintah Kremlin, tampil dalam konferensi pers di sebuah stasiun TV Ukraina, Rabu (30/05).

Kepala dinas keamanan Ukraina, Vasyl Hrytsak, menyatakan kepada para wartawan bahwa ‘pembunuhan’ itu diatur untuk mengungkap agen-agen Rusia.

“Berdasarkan informasi yang diterima oleh dinas rahasia Ukraina, pembunuhan wartawan Rusia Arkady Babchenko diperintahkan langsung oleh dinas rahasia Rusia,” kata Hrytsak.

Arkady Babchenko, tampil dalam konferensi pers di sebuah stasiun TV Ukraina

Laporan tentang pembunuhannya, Selasa (29/05), sempat memicu ketegangan politik dengan Perdana Menteri Ukraina, Volodymyr Groysman, menuduh Rusia berada di balik pembunuhan wartawan Rusia di Kiev, Arkady Babchenko.

“Saya yakin bahwa mesin totalitarian Rusia tidak memaafkan kejujuran dan sikap berprinsipnya,” kata perdana menteri Ukraina.

“Para pembunuhnya harus dihukum,” tambah Groysman.

Pernyataan ini dikeluarkan setelah laporan-laporan meluas bahwa Babchenko ditembak hingga meninggal dunia di luar gedung apartemen yang ditempatinya di ibu kota Ukraina, Kiev, Selasa (29/05). Ia merupakan wartawan Rusia yang kritis terhadap pemerintah negara itu.

Rusia menuntut Ukraina melakukan penyelidikan atas pembunuhan warga negaranya itu.

“Kami menuntut otoritas Ukraina menempuh segala cara untuk segera melakukan penyelidikan,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataan yang dirilis Rabu (30/05).

“Kejahatan berdarah dan kekebalan hukum total telah menjadi rutinitas bagi rezim Kiev.” Demikian keterangan dari Kementerian Luar Negeri Rusia, seraya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan teman-teman Babchenko.

‘Terus dibunuhi’

Kalangan politikus dan wartawan juga mengomentari pembunuhan Babchenko, yang sempat diberitakan oleh media seluruh dunia.

“Tidak ada alasan lain bagi pembunuhan Babchenko, kecuali apa yang ditulisnya. Tidak ada alasan lain,” kata wartawan independen Rusia, Yevgenia Albats.

“Saya begitu bosan mendapati bahwa teman-teman, kenalan dan orang-orang yang saya kenal terus dibunuhi,” tutur seorang politikus oposisi, Dmitry Gudkov.

Hubungan antara Rusia dan Ukraina masih tegang menyusul pencaplokan Krimea oleh Rusia tahun 2014 dan perebutan sebagian wilayah Ukraina timur oleh pemberontak pro-Rusia.

Para analis memperkirakan pembunuhan Arkady Babchenko, yang kritis terhadap pemerintah Rusia, membuat hubungan kedua negara semakin tegang.

Babchenko, 41, ditemukan di depan gerbang gedung apartemen yang ditempatinya di Kiev. Ia ditemukan dalam kondisi berdarah oleh istrinya dan meninggal dunia di dalam ambulans.

Ia dilaporkan ditembak beberapa kali di bagian punggungnya.

Menurut seorang anggota parlemen Ukraina, Anton Herashchenko, sang wartawan itu pergi ke toko untuk membeli roti, dan terduga pembunuhnya sudah menunggu Babchenko.

Kepala Kepolisian Kiev, Andriy Kryshchenko, mengatakan Babchenko diduga dibunuh karena “aktivitas profesionalnya”.

Ketika menekuni bidang hukum di Moskow pada usia 18 tahun, Babchenko menjalani wajib militer Rusia dan bertugas dalam perang Chechnya antara tahun 1994 hingga 2000.

Catatan memoirnya, One Soldier’s War, berisi pengalamannya dalam perang yang merenggut puluhan ribu nyawa dari kedua belah pihak.

Ia kemudian memutuskan untuk menjadi wartawan di sejumlah media.

Dikenal sebagai kritikus terkenal terhadap Kremlin, ia mencalonkan diri dalam pemilihan umum tak resmi yang diselenggarakan oleh oposisi tahun 2012. Ia juga mengecam keterlibatan Rusia di Suriah dan Ukraina.

Pada Desember 2016, Babchenko mengunggah tulisannya ke Facebook tentang jatuhnya pesawat Rusia Tu-154 di Laut Hitam ketika mengangkut rombongan paduan suara dari militer Rusia ke Suriah.

Menurutnya, unggahannya itu, yang menyebut Rusia sebagai “agresor, menyebabkan ia mendapat ancaman pembunuhan dan tindakan lainnya dari negara.

Dalam tulisannya untuk koran Inggris, The Guardian, ia mengatakan karena hal tersebut maka ia terpaksa meninggalkan “negara di mana saya tidak merasa aman”.

Babchenko juga menulis untuk BBC, melaporkan dari tempat kejadian tentang helikopter militer Ukraina yang ditembak jatuh di Ukraina timur pada tahun 2014.

Ia semula pindah ke Praha dan kemudian ke ibu kota Ukraina. Sebagai mantan wartawan perang, ia bekerja di Kiev sebagai pembawa acara televisi Ukraina, ATR TV.

Berita ini telah tayang sebelumnya di BBC News Indonesia.

Sumber Berita : Reuters

 

 

 

 

 

SHARE