Tarif Listrik Mencekik, Mahasiswa Meminta PLN Batam di Kembalikan ke Negara

TERDEPAN.CO.ID, BATAM- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unversitas STIE Ibnu Sina Batam, melakukan aksi unjuk rasa menolak kenaikan tarif listrik yang telah di berlakukan oleh Bright PLN Batam, karena dianggap telah menyengsarakan masyarakat Batam yang saat ini sedang mengalami kesulitan ekonomi, rabu (24/04/18) di seberang jalan pintu masuk kantor PLN Batam, tepatnya di depan Taman Aspirasi Batam Centre Kota Batam.

Aksi unjuk rasa yang di gelar dengan melibatkan tujuh mahasiswa ini adalah bentuk kepedulian mahasiswa akan rasa ketidak-puasan atas kebijakan yang telah di berlakukan Bright PLN dalam menaikan tarif pembayaran listrik kepada para konsumen, sekaligus sebagai bentuk keperduliannya terhadap masyarakat yang telah menyuarakan keberatannya melalui lembar kuisioner yang telah di bagikan kepada masyarakat, khususnya di kalangan pedagang pasar, ibu rumah tangga, mahasiswa baik perguruan tinggi maupun kaum pelajar yang sedang kos maupun kontrak.

Lembar kuisioner ini juga telah diisi oleh beberapa pegawai negeri maupun sipil seperti DPRD dan Pemko Batam yang hasilnya hampir 64 persen menyatakan keberatan atas kenaikan listrik, 26 persen menyatakan tidak keberatan dan 10 persen tidak memberikan tanggapan.

Selain melakukan orasi, para mahasiswa juga membagikan selebaran kuisioner kepada para pengguna jalan yang melintas di depan mereka.

Koordinator sekaligus Presiden BEM Ibnu Sina, Habibi dalam oratornya menyerukan agar Bright PLN segera menurunkan tarif listrik yang telah membuat masyarakat tercekik dan menyengsarakan khususnya kalangan menengah kebawah.

Tak hanya itu, dalam orasinya juga menegaskan agar Bright PLN memberikan penegasan secara transparasi kepada publik, alasan kenaikan listrik yang telah di setujui oleh Gubernur Kepri Nurdin Basirun sebelumnya.

“ Kami minta agar Bright PLN di kembalikan kepada perusahaan milik Negara, karena kebijakannya sudah menyimpang dari aturan yang sudah menyengsarakan masyarakat banyak, dan kami meminta agar Gubernur Kepri Nurdin Basirun untuk turun dari jabatannya karena telah menyetujui kenaikan listrik tersebut, “ terang Habibi diamini rekan-rekannya.

Menurutnya, aksi ini bukan hanya sekedar menyuarakan masyarakat, namun sebagai mahasiswa yang merantau di daerah orang, dirinya merasakan betul atas kenaikan tersebut yang berimbas atas kenaikan semua harga di pasaran dan tempat sewa yang tadinya harganya cukup terjangkau, setelah adanya kenaikan listrik, semuanya jadi naik bahkan sampai dua kali lipat.

“ Kami sendiri ikut merasakan sendiri yang tadinya kos atau kontrak harganya cukup murah, sekarang sudah pada naik semua, alasan ibu kos katanya listrik naik, kami tidak kuat bayar kalau seperti ini, “ bebernya.

Di penghujung orasinya, Para mahasiswa juga menyampaikan akan menurunkan lebih banyak lagi pendemo untuk menyuarakan aspirasinya, apabila Bright PLN tidak mau menanggapi aksi tersebut.

Sampai aksi unjuk rasa di tutup, dari managemen Brght PLN tidak ada satupun perwakilannya yang datang memberikan klarifikasi jawaban.

Pantauan di lapangan nampak dari Dinas Perhubungan dan aparat Kepolisian ikut berjaga-jaga mengamankan keadaan di seberang jalan pintu masuk menuju kantor Bright PLN Batam Centre, dan sampai pukul 15.30 wib unjuk rasa tersebut di akhiri dengan aman. IKA

 

 

SHARE