Lima Pelaku Persekusi di Jebloskan Dalam Penjara

Rombongan Polres Kota Tangerang menyusuri jalan setapak ke rumah kontrakan MA, perempuan 20 tahun korban penelanjangan di Desa Suka Mulya, Cikupa, Tangerang, Selasa 14 November 2017. TEMPO/Ayu Cipta

Terdepan.co.id,Tangerang– Lima tersangka kasus persekusi di Tangerang di jebloskan ke dalam sel tahanan Kepolisian Resor Kota Tangerang di Tigaraksa, kamis (16/11/17).

Kelima tersangka yaitu Toto, Ketua RT 07 Kampung Kadu Kelurahan Suka Mulya Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang, G (44), A (37), S, N dan I, dalam pengakuannya kepada aparat kepolisian bertanggung jawab atas penganiayaan, penelanjangan dan perbuatan tidak menyenangkan karena memprovokasi dan memaksa kedua sejoli, pria berinisial R (28 tahun), dan kekasihnya MA berusia (20 tahun), pada Sabtu malam, 11 November 2017 di arak dalam keadaan bugil di hadapan warga.

Menurut Tohir, warga sekitar, Toto sehari-hari bekerja serabutan. “Sudah menjabat dua periode, artinya dia sudah enam tahun sebagai ketua RT di kampungnya, Rabu, 15 November 2017.

“Kejadian kemarin, berawal dari Pak RT mendapat laporan sejumlah warga kalau di kontrakan milik Helmi sering dijadikan tempat mesum,” ujar Tohir. Setelah mendapatkan laporan, Ketua RT Toto mengintai. “Ya saya tahunya sudah ramai, ketua (RT) mengintai karena katanya di kontrakan itu sering datang laki laki tengah malam,” kata Tohir.

A.Goni, pengacara dari kelima tersangka mengakui para tersangka merasa menyesal.

“Mereka belum menceritakan detail kejadian, hanya mengaku menyesal dan Toto juga mengatakan telah menampar korban. Tentang peran masing-masing masih menunggu pemeriksaan lanjutan dari kepolisian,”kata Goni .

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Tangerang Komisaris Wiwin Setiawan mengatakan sampai saat ini para tersangka belum diperiksa lagi. “Tersangka juga belum bertambah, masih seperti kemarin. Mereka berada dalam sel,” kata Wiwin.

Wiwin mengatakan, Toto dan G adalah memukul R dan MA saat digiring ke rumahnya. “G memukul saat korban sampai di rumahnya,”kata Wiwin. Sedangkan peran A dan N menarik kerah baju korban.

Kepala Polres Kota Tangerang Ajun Komisaris Besar M. Sabilul Alif mengatakan trauma healing diperlukan karena MA syok. Maka, psikiater diperlukan untuk membantu mengurangi bahkan menghilangkan gangguan psikologis yang sedang dialami korban pasca ditelanjangi, diarak nyaris bugil keliling kampung dan dilihat khalayak ramai.

“Tim psikologi dan psikiater sudah kami siapkan untuk memberikan memulihkan kondisi kejiawaan korban,” ujar Sabilul. Maka, demi keamanan korban, polisi pun menyembunyikan alamat R di Tigaraksa.

Sumber: Tempo.Co

 

SHARE